ke Atas | ke Bawah

Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali, maka jangan sia-siakan waktu yg kita miliki.

________________________

Semoga bermanfaat

Amien....

 

Pengaruh Do'a Terhadap Kesehatan

~ ~
Setiap manusia yang hidup ini akan menerima berbagai macam cobaan dan kesulitan hidup, penderitaan dan penyakit, yang merupakan sunnatullah, yaitu keadaan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana juga kegembiraan, kesenangan dan kenikmatan, silih berganti. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran yang tafsirnya wallahu alam, "Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (surat Muhammad ayat 31). "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar." (Surat Al-Baqarah ayat 155).
Jadi gangguan dalam kesehatan, berupa penyakit, apapun juga bentuknya, merupakan bagian dari "ujian" yang telah ditentukan Allah SWT terhadap siapa yang dikehendakiNya. Pengertian ini sangat penting dan fundamental, karena dalam tatalaksana pengobatan penderita, dokter sangat memerlukan kerjasama dengan penderita yang diobatinya. Salah satu faktor yang ikut menentukan adalah sikap penderita terhadap penyakit yang dideritanya.
Pengalaman menunjukkan, reaksi ini berbagai ragam, ada yang panik dan putus asa (ini yang paling banyak), ada yang tidak percaya (dan mungkin lantas ganti dokter), apalagi jika penyakit-penyakit yang dideritanya termasuk cukup berat. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah keluarga dekat si sakit akan terpengaruh. Sikap penderita yang putus asa, panik akan mempengaruhi keadaan keluarganya. Di samping itu tentu saja juga akan mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh pasien yang sedang sakit maupun yang masih sehat, dan yang jelas proses kesembuhan akan dihambat.
Maka penjelasan dokter kepada penderita/keluarga tentang kenyataan adanya penyakit dan sikap yang harus dilakukan oleh penderita keluarga adalah "ikhlas" menerima kenyataan ini, katanya merupakan bagian dari kehidupan dan sudah menjadi kehendak Allah SWT Yang Maha Pencipta, dan selama proses sakit ini ia harus bersabar. Ia boleh mengetahui dalam batas-batas penyakit yang dideritanya, mengapa ia menjadi sakit dan aspek-aspek pengobatannya, dengan bertanya kepada dokternya. Sebaliknya bila keadaan memungkinkan, dokter akan menerangkan aspek-aspek yang perlu diketahui tentang penyakitnya, akan tetapi yang paling penting harus dijelaskan bahwa semua metoda pengobatan adalah usaha manusia dengan kadar ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada dunia kedokteran/dokter yang mengobati, sedangkan sembuh atau proses penyembuhan adalah hak mutlak Allah SWT. Penjelasan ini mungkin pada keluarga saja atau langsung pada pasiennya, tergantung keadaan. Maksudnya bukan sekali-kali agar dokter dapat mencari alasan jika pengobatannya gagal, akan tetapi ini merupakan pintu pembuka agar dokter/penderita menjadi sesungguhnya usaha-usaha pengobatan, berhasil/tidaknya semata-mata di tangan Allah SWT. Ini petunjuk yang dapat diambil dari firman Allah dalam Al-Quran yaitu dari surat Al-Baqarah ayat 156 : "Yaitu orang-orang, yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan : Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Kata-kata "innalillahi wa inna ilaihi raji'un" adalah kata-kata keikhlasan, kata-kata penggantungan harapan dan penyerahan diri bahwa "semua apapun berasal dari Allah (termasuk penyakitnya), dan semua akan kembali kepadaNya." Artinya, Dia pulalah yang akan menghilangkan penyakit yang diderita.
Sikap negatif, tidak menerima sakit, apalagi bertanya, "kenapa saya sakit begini, orang lain kok tidak," atau "kenapa justru saya yang kena," sering juga didengar komentar-komentar : "Salah apa saya, saya sudah berdoa, berbuat baik kepada orang, kok kena sakit seperti ini," adalah sikap yang tidak menguntungkan, malah merugikan sendiri. Sikap ini akan menimbulkan stres kejiwaan, kecewa yang berlarut yang mempunyai konsekuensi. Rentetan reaksi-reaksi biologik yang memperburuk penyakitnya dan mempersukar pengobatan, tanpa disadari oleh penderitanya. Misalnya gangguan tidur, sekresi adrenalin akibat stres berlanjut berakibat kenaikan tekanan darah serta memacu denyut jantung yang kesemuanya pada keadaan sakit apapun tidak menguntungkan.
Dengan melaksanakan firman Allah dalam dua ayat dari surat Al-Baqarah, reaksi-reaksi yang bersifat otomatik dan merugikan dapat dihilangkan. Jadi sesungguhnya bagi kita dalam menghadapi musibah, penyakit, apapun juga, tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan perintah Allah SWT yang disebut dalam dua ayat tersebut di atas (Al-Baqarah 155 dan 156). Bagaimana dengan reaksi-reaksi setiap orang terhadap kenyataan akan musibah/penyakit yang dideritanya? Bukankah "wajar" kalau ia bersedia atau putus asa? Bukankah itu merupakan reaksi individu yang dipunyai oleh setiap orang? Tertekan dan menggelisahkan akan hari depan yang belum menentu?
Justru di sinilah, peranan doa harus dikemukakan. Sikap dan energi kejiwaan yang mendasari reaksi-reaksi stress di atas tidak boleh dilepaskan begitu saja, karena seperti disebut diatas, merugikan. Energi ini harus disalurkan, dihimpunkan dan disatukan dalam meminta kesembuhan kepada pemilikNya, yaitu Allah SWT dengan sikap dasar "ikhlas dan sabar" seperti diperintahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155 itu.
Kenapa tenaga/energi kejiwaan itu harus dipersatukan? Karena kesatuan energi kejiwaan (rasa) yang disertai dengan penyerahan akal fikiran kepada Allah SWT merupakan dasar berdo'a yang khusyu'. Memang sudah menjadi watak manusia, jika ia membutuhkan sesuatu, maka ia akan berusaha sekuat-kuatnya memenuhi keperluan tersebut. Dalam keadaan lapar, ia membutuhkan makan, tentu makanan yang dicarinya. Dalam keadaan sakit ia memerlukan kesembuhan dan ia pun mencari "sehat". Karena "perlu"nya ini, maka obat apapun akan ia telan, apalagi jika dokter menjanjikan sembuh. Padahal, sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penyembuh, sesuai firmanNya dalam surat Asy-Syu'ara' ayat 80 yang tafsirnya "Dan jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkan."
Dengan penyatuan antara energi rasa/jiwa dengan akal pikiran, maka do'a/permohonan kesembuhan kepada Allah SWT akan lebih khusyu' dan InsyaAllah akan mampu melaksanakan dalam arti yang sebenar-benarnya "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un". Dengan melaksanakan ini, maka penyembuhan insya Allah akan berhasil sesuai dengan firmanNya dalam ayat 157 surat Al-Baqarah yang tafsirnya wallahu a'alam : "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Jadi "petunjuk" ini pasti datang mengatasi/mengobati penyakit asal syarat-syarat yang telah ditentukan dalam dua ayat sebelumnya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kita telah mengetahui, bahwa pada jaman sekarang penyakit-penyakit dunia modern lebih banyak bersifat non infeksi : darah tinggi/hipertensi dengan segala komplikasinya, kanker serta bentuk-bentuk keganasan, penyakit-penyakit jantung, penyakit penyumbatan darah ke otak, penyakit-penyakit pencernaan dan hati, dan lain-lain. Bentuk-bentuk penyakit ini patofisiologisnya sampai sekarang belum jelas benar, dan telah diketahui bahwa faktor-faktor psikologik si sakit mempunyai peranan yang banyak dalam penyakit ini, meskipun hubungan-hubungannya belum jelas benar.
Pelaksanaan dari ayat 155, s.d. 157 surat Al-Baqarah merupakan kunci yang sistematik dalam usaha penyembuhan penyakit.
Dengan doa/dzikir kepada Allah SWT yang juga merupakan perintah Allah sesuai firmanNya dalam surat Al-Baqarah ayat 186 yang tafsirnya "Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepadaKu. Maka hendaknya mereka memenuhi segala perintah-perintahKu, dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran."

Metode Berdoa
Setelah menyiapkan diri kita dengan melaksanakan perintah Allah dalam surat Al-Baqarah 155 dan 156, yaitu :
1. Ikhlas menerima keadaan, kosongkanlah pikiran dari hal-hal yang negatif tentang penyakit/tentang hal-hal yang akan datang sebagai akibat sakit dan lain-lain.
2. Tanamkan rasa kesabaran, bahwa kejadian ini merupakan kehendak Allah.
3. Arahkan semua perasaan dan pikiran ke hadirat Allah SWT. Keinginan sembuh, keinginan lepas dari penderitaan. Jeritkan dan serukan Allah dalam hati dan perasaan serta pikiran kita. Ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 110, yang tafsirnya. "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua sebut, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik."
Berdoa dengan Al-Azma'ul Husna (nama-nama Allah yang baik) sangat praktis bagi orang yang sakit, karena dengan menyeru nama-nama Allah ini yang disertai arus perasaan lebih gampang daripada membaca doa-doa yang panjang. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 180, yang tafsirnya.
"Allah mempunyai Al-Asma'ul Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Al-Asma'ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Sebaiknya bagi si sakit doa ini diucapkan dalam hati dan dengan penuh perasaan permohonan, harapan dan sesering mungkin, baik setelah shalat wajib maupun pada saat-saat di luar itu, baik pada waktu berbaring, atau saat mana saja agar doa ini dapat terkabulkan. Ini pun sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-A'raf ayat 205 tafsirnya : "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."

Ringkasan:
Doa merupakan cara permohonan orang Islam yang pasti dikabulkan Allah SWT. Dalam hal penderita, maka perlu pengarahan dan penjelasan kepada penderita bahwa pengobatan adalah usaha syariat para dokter, sedang penyembuhan adalah hak dan karunia Allah SWT. Penjelasan ini harus sesuai dengan kemampuan dan pengertian serta kondisi penderita. Setiap penyakit apalagi penyakit yang mempunyai komponen psikologik yang besar dapat menimbulkan reaksi anyietas/kepanikan, yang membahayakan kesehatan penderita yang sudah terganggu, karena aktifnya berbagai hormon yang mendasari reaksi tersebut. Keadaan ini, jika berlanjut dapat memperburuk/memperlambat proses kesembuhan. Karena itu sikap penderita terhadap penyakitnya sendiri sangat penting dan ini petunjuknya telah tertulis dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 155, 156, dan 157 dan merupakan metode sistematik yang mendasari doa dalam rangka mohon kesembuhan kepada Allah SWT. Telah diuraikan cara-cara berdoa seperti yang diperintahkan Allah SWT dalam surat Al-A'raf ayat 180 dan 205.


Diposkan oleh Haryo Bagus Handoko

0 komentar:

Post a Comment

 
© 2009 - Islam Itu Indah
IniMinimalisKah is proudly powered by Blogger